Aku, setiap kata yang aku katakan pasti saya mendengarnya. Aku dan saya selalu bersama melewati rintangan hidup, mungkin aku dan saya akan mati bersama. Mendengar cerita tentang aku, saya selalu berpikir. Apa saya bisa seperti aku, hidup dalam mimpi dan cita-cita; menuju kebahagiaan hidup. Aku selalu bisa membahagiakan orang lain. Aku selalu bisa membuat orang lain tertawa. Namun saya, apa yang saya bisa.
Saya memang tidak seperti aku, saya berusaha untuk itu. Agar aku dan saya dapat bersatu. Menuju kebahagiaan. Hanya hidup dalam pencitraan, munafik, padahal dibaliknya hanya sebuah setan yang duduk tanpa melakukan apapun. Saya tak tahu apa - apa sebenarnya tentang hidup. Hanya berbebekal mulut besar dan hati dengki juga suka menjilat aku - aku lainnya. Begitulah saya. Tak bisa mendengar apa kata aku. Aku yang jauh hidup di dalam hati kecilnya.
Saya sebenarnya ingin memberontak untuk bisa hadir dan memeluk aku. Aku pun sepertinya rindu akan adanya saya disisinya. Tetapi, saya selalu menjauh, menjauh mencari hal lain yang hanya bisa membahagiakannya sesaat, bahkan hanya semalam. Saya masih menjauh, tetapi aku tidak, aku tetap berdiri dihati kecil saya. Menunggu saya untuk datang dan bersamanya lagi.
Saya, tahukah kau, kau ditunggu oleh Aku.