Sunday, February 26, 2012

Dan Aku Pernah Mencintainya

Malam itu, ketika kami duduk di ruang tamu rumahnya. Bercakap - cakap, menuliskan kisah kita dulu, dan menertawai kenakalan yang pernah kami lakukan. Aku hanya bisa mendengar dan selalu menatap matanya dengan tatapan penuh belaian. Andaikan aku bisa membelainya lagi atau mungkin langsung kupeluk saja dia. Tetapi tidak, aku harus menahan sedikit perasaan nakal itu. Dia pun terus memancing obrolan, mulai dari kabar, keluarga, kuliah, hingga akhirnya tentang diriku yang jauh lebih dalam. Sedalam hatiku dulu, yang dulu pernah mencintainya.

Kulihat dentingan detik jam yang mulai membuat tubuhku panas, berkeringat. Pendingin ruangan itu ternyata tak memberi pengaruh banyak bagi hatiku yang membara ini. Aku masih mencintainya. Jauh di hatiku yang panas ini. Matanya semakin dekat dengan mataku, bibirnya semakin penuh gairah ketika dia menanyakan, "Bang, siapa pacar abang sekarang?". Aku terdiam sejenak karena melihat bibir tipisnya yang bergerak ke atas dan kebawah mengikuti suara manjanya. "Hmmm apa?" jawabku dengan bingung. Malu rasanya ketika dia tahu jika aku menatapnya dari jam 7 tadi, berarti sudah 4 jam kita berbincang karena saat ini sudah menunjukkan pukul 11 malam dan dia masih menguasai pembicaraan ini. Aku hanya terlena olehnya. "Oh Tuhan, salahkah aku?" bisiku dalam hati. Dulu aku pernah mencintainya.

Tengah malam, dan hari pun akan mulai pagi. Kami masih berada dalam ruangan yang sama. Pikiran nakalku ingin mengajaknya ke ruangan lain. "Cukup, aku sudah tidak mencintainya lagi", aku marah pada diriku sendiri. Kita duduk semakin dekat, tinggal sejengkal lagi. Dia pun semakin menekanku. Serasa ditabrak tembok cina. Tak bisa bergerak. Kaku. Matanya semakin dekat denganku. Serasa ingin saling memandang. Bibirnya mulai bercerita lebih dalam, sedalam aku pernah mencintainya. Dia mulai mendekati dan berbisik. Aku pun langsung bergetar, ditimpa atap rumah rasanya. "Terima kasih, tetapi aku hanya pernah mencintaimu" jawabku.

No comments:

Post a Comment